UNICEF dan BRR menandatangani pada hari ini daftar 346 situs sekolah yang diperbaharui yang merupakan suatu bentuk komitmen UNICEF untuk pembangunan kembali sekolah-sekolah di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan kabupaten Nias dan Nias Selatan sampai akhir 2008. Daftar situs sekolah tersebut merupakan kelanjutan dari persetujuan yang pertama kali ditandatangani pada bulan September 2005 antara UNICEF dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR).
Sebagai bagian dari acara penandatanganan yang diadakan di gedung SDN 17 di kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, yang baru selesai dibangun, UNICEF secara simbolik menyerahkan 52 sekolah permanen yang telah selesai dibangun kepada BRR. Penandatanganan dokumen dan serahterima sekolah dilakukan oleh Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia Dr.Gianfranco Rotigliano dan Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mangkusubroto.
Dengan penandatanganan daftar situs sekolah yang diperbaharui ini, UNICEF memperluas komitmennya untuk pembangunan kembali sekolah di 6 kabupaten tambahan, yaitu Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Selatan dan Aceh Singkil. Di 6 daerah bekas konflik tersebut, UNICEF mengidentifikasi kebutuhan akan infrastruktur sekolah yang baru dan banyaknya anak-anak yang membutuhkan dukungan untuk mendapatkan akses ke pendidikan dasar.
Dari ke-52 sekolah tersebut, 49 diantaranya berlokasi di NAD dan 3 di Nias.
Dengan adanya tambahan situs sekolah di 6 kabupaten, maka secara keseluruhan program pembangunan kembali sekolah oleh UNICEF berada di 13 kabupaten, mencakup 346 situs sekolah dan 376 unit sekolah. Ke-7 kabupaten/kotamadya yang disetujui pada tahun 2005 adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Nias dan Nias Selatan yang merupakan daerah-daerah yang terkena dampak gempa dan tsunami tahun 2004.
“Kami tidak akan membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan untuk bersekolah hanya karena mereka tinggal di daerah terpencil,” kata Dr. Gianfranco Rotigliano. “Di 6 kabupaten tersebut, pendaftaran sekolah dan akses ke sekolah sangat rendah. Setiap anak mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan dasar, dan kami akan memastikan bahwa hak-hak ini terpenuhi juga bagi anak-anak yang tinggal di daerah-daerah bekas konflik.”
Seluruh 346 situs sekolah telah diserah terimakan kepada mitra kerja UNICEF, yaitu UNOPS (213 situs sekolah), Bita (66 situs sekolah) dan Nippon Koei (67 situs sekolah). Satu unit sekolah standard memiliki 6 ruang kelas, kamar kecil yang terpisah untuk murid laki-laki dan perempuan, 1 ruang guru dan 1 perpustakaan. Selain 52 sekolah yang telah selesai, 100 bangunan sekolah sedang dalam tahap pembangunan dan 81 dalam tahap tender.
Lebih dari setahun setelah peresmian sekolah permanen UNICEF yang pertama – SD Muhammadiyah 1 dan 2 di Merduati, Banda Aceh – UNICEF telah menyelesaikan 52 sekolah atau rata-rata satu sekolah setiap minggu. Semua sekolah UNICEF menggunakan rancangan bangunan yang ramah anak yang terwujud dalam ruang kelas yang luas, kamar kecil yang terpisah bagi anak laki-laki dan perempuan dan lapangan bermain yang luas. UNICEF juga membuat terobosan baru dengan penggunaan standard bangunan tahan gempa.
“Kita telah menciptakan sebuah prestasi yang baru dalam usaha pembangunan kembali Aceh dan Nias. Dengan penambahan 6 kabupaten baru, kita membuka kesempatan bagi anak-anak yang tinggal di daerah-daerah bekas konflik untuk mendapatkan akses ke pendidikan dasar. Saya yakin ini akan mempercepat proses pembangunan kembali Aceh dan Nias sekaligus mendorong perdamaian yang abadi di propinsi ini,” kata Bapak Kuntoro Mangkusubroto.
Dalam kesempatan ini, Kuntoro menyampaikan rasa terimakasih kepada Unicef yang telah membantu pendidikan Aceh dan Nias pascatsunami. Karena itu, Kuntoro meminta kepada guru dan murid sekolah yang menempati gedung sekolah baru untuk menjaga keindahan sekolah tersebut.