close

The BRR Knowledge Centre, established in June 2008, aims to collect and disseminate information regarding the rehabilitation and reconstruction programme in Aceh and Nias (2005-09).

The information collected includes documents and other media types sourced from BRR and participating organisations.
The information is disseminated through the document search and other retrieval facilities available at this web-site.
Mission

ICAIOS Didemo

Print
Konferensi Internasional Pertama mengenai Kajian-Kajian Aceh dan Kawasan Samudera Hindia atau International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) dibuka Sabtu pagi (24/2) di Swiss Bellhotel, Banda Aceh yang sekarang telah berganti nama menjadi Hermes Palace Hotel. 

Pada 25 Februari 2007, kelompok yang mengatasnamakan masyarakat sipil Aceh mengadakan orasi di depan Swiss Bellhotel dengan alasan konferensi ini tidak menyentuh kepentingan korban tsunami.

Menanggapi banyaknya kecaman dari pihak-pihak tertentu yang kurang menyetujui penyelenggaraan ICAIOS, Irwandi menanggapi, ”Manfaat forum semacam ini memang tidak bisa dirasakan sekarang, namun untuk ke depan, pasti banyak sekali. Saya yakin, melalui ICAIOS, ke depan akan banyak lagi para cendekiawan dan investor yang mau datang ke Aceh. Jadi tak perlu gusar dengan pihak-pihak yang tidak setuju.”


Ratusan partisipan ICAIOS yang berasal dari puluhan negara membuktikan bahwa Aceh saat ini sudah aman dan lebih siap bagi para periset internasional melakukan penelitian. Menurut Anthony, “Aceh patut berbangga memiliki ICAIOS, karena lazimnya, konferensi sekelas ini diselenggarakan di kota-kota besar dunia semacam New York atau Paris. Oleh karena itu, jika kita bisa mengoptimalkan event penting ini secara sinergis, pasti banyak manfaat yang dapat kita petik.”

Pada kesempatan yang sama, Peter Feith juga menandaskan, konferensi ini secara tak langsung telah mendukung  terlestarinya kesinambungan perdamaian di Aceh. “Melalui ICAIOS, tidak hanya progres pemulihan Aceh pascatsunami saja yang akan lebih dilihat dan didukung oleh dunia internasional, melainkan juga kesinambungan perdamaian pasca-MoU Helsinki,” ujarnya.